Chairil Anwar
AKU
Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar
Penulis : Sjuman Djaya
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2016
"Aku!
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi."
Hal : 6-7
Penghabisan kali itu kau datang
Membawa karang kembang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: Untukmu.
Sudah itu kita sama termangu,
Saling tanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.
Sehari itu kita bersama. Tak hampir
Menghampiri.
Ah! Hatiku yang tak mau memberi.
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
Hal : 102
Hampir semua anak yang bersekolah di Indonesia mengenal puisi-puisi Chairil Anwar mulai dari "Karawang Bekasi" hingga "Aku". Bahasa kita menjadi kaya dalam karya Chairil Anwar.
Chairil meninggal pada usia 27 tahun, tetapi semangat kebangsaanya tak pernah padam melalui sajak-sajaknya. Chairil akan tetap hidup melebihi 1.000 tahun usia yang ia dambakan dulu kala.
Chairil hidup dengan berhutang kepada teman-temannya dan membayar hutang itu dengan buku-buku curian. Buku karya-karya tokoh terkenal dilahapnya. Dengan kebiasaannya seperti itu, Chairil tak punya waktu untuk mengurus istrinya, hingga dalam sebuah pertengkaran Chairil meninggalkan rumah dengan membawa koleksi-koleksinya. Chairil mati muda dan tak sempat kembali ke Hapsah, sang istri. Bahkan, Chairil tak sempat melihat bukunya terbit.
Mari membuka diskusi dengan mengangkat judul papua merdeka. Bukan lagi saatnya membahas cinta secara subjektif tetapi secara objektif.
BalasHapusTerima kasih, dulur. Telah berkomentar, mari kita mencari berita baru tentang papua sebelum mendiskusikannya.
BalasHapus