Soe Hok-gie Sekali Lagi...

(Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya)

Penulis   : Rudi Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nesi Luntungan
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Buku yang menceritakan tentang seorang pemuda keturunan Tionghoa bernama Soe Hok-gie yang menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Hok-gie lahir saat perang di Pasifik berkecambuk, 17 Desember. Ini sepenggal kisah perjalanan hidup Hok-gie hingga akhir di puncak Mahameru.

Pembaca disuguhkan perjalanan hidup Hok-gie yang diceritakan menurut kesaksian kolega semasa hidupnya, salah satunya Rudi Badil dan Herman O Lantang. Mengenal dan mengenang Hok-gie sosok pemuda yang kritis dan patriot, serta tak lupa kecintaan pada alam Indonesia.

Hok-gie sangat gencar mengkritisi pemerintah saat itu Soekarno (Orde Lama), Soeharto (Orde Baru).
Hok-gie menuntut Tritura sebagai berikut :
  1. Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya
  2. Perombakan kabinet Dwikora
  3. Turunkan harga pangan 

Setelah Peristiwa Gerakan 30 September atau yang kita kenal dengan G30S/PKI, serta kejatuhannya masa pemerintahan orde lama dan kini berubah menjadi orde baru. Politisi dan simpatisan PKI di buru, di penjara, di bunuh tanpa pernah di adili ini terjadi di Jawa dan Bali.

Hok-gie dengan tulisannya mengkritisi pemerintah orde baru dibawah pimpinan Soeharto, mengecam dengan keras terhadap diskriminasi terhadap korban.

Soe Hok-gie dan koleganya, Idhan Lubis meninggal dunia di puncak Gunung Semeru, karena gas beracun. Hok-gie meninggal 1 hari sebelum hari lahirnya, tanggal 16 Desember 1969.

Soe Hok-gie pernah berkata, "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan, tetapi mati muda. Yang tersial adalah umur tua, rasanya memang seperti itu."

Komentar

Postingan Populer