TITIK NOL


Kutipan buku | chapter 1

TITIK NOL

Agustinus Wibowo

Hidup itu adalah sebilah cermin.  Dunia di matamu sesungguhnya adalah cerminan dari hatimu sendiri. Caramu memandang dunia adalah caramu memandang diri. Jika dunia penuh kebencian dan musuh di mana-mana, sesungguhnya itu adalah produk dari hatimu yang dibalut kebencian. Jika kaukira dunia penuh dengan orang egois, itu tak lain adalah bayangan dari egoisme egomu sendiri. Dunia yang muram berasal dari hati yang muram. Sedangkan kalau dunia di matamu selalu tersenyum ramah, berterima-kasihlah pada hatimu yang diliputi cinta. Ada aksi pasti ada reaksi.  Ada perbuatan pasti ada balasan. Semua itu simetris”
“Orang bilang, kenikmatan perjalanan berbanding terbalik dengan kecepatan berjalan. Pemandangan terindah justru terlihat ketika melambatkan langkah, berhenti sejenak”
“Di mataku, hal yang membedakan kualitas perjalanan adalah ‘apakah digunakan hati?’
Ada orang yang pergi ke ratusan negara, sampai sudah tak ingat lagi mana-mana saja yang pernah didatangi, selain bukti foto-foto dan cap di paspor yang menjadi piala kebanggan.
“Ada orang ­­- seperti Lam Li – yang berjalan perlahan-lahan, mendalami negeri-negeri, menyelami manusia, menganalisa sejarah, mempelajari budaya, dan mencatat setiap cerita”
“Kau bilang perjalanan hanyalah bagi sang pemberani. Kau bilang perjalanan keliling dunia itu ekslusif bagi para lelaki gempal jagoan yang kuat melibas semua musuh. Namun bagiku, ujian pertama dalam perjalanan adalah pembuktian kesabaran”
“Ketakutan selalu menami hidup. Kau dan aku takkan pernah bisa lari darinya. Dalam berbagai wujud, ketakutan selalu menghantui manusia, sahabat setia dari gua garba hingga liang lahat. Adakah bagian dari perjalanan hidup ini yang terlepas dari ketakutan? Lihatlah semua tindakan yang dilakukan semua manusia pada hakikatnya adalah demi membebaskan diri dari sebuah rasa takut. Orang bekerja keras, berkeluarga, membesarkan anak, melakukan investasi, membeli asuransi, semua demi sejumput rasa aman”
“Justru karena masih ada mimpi, kita jadi punya alasan untuk terus hidup, terus maju, terus berjalan, terus mengejar. Tanpa mimpi sama sekali, apa pula arti hidup ini?”
“Jarak dan waktu memang sempat menjadikan hubungan ibu dan anak ini seperti tuan rumah dan tamu yang saling dipenuhi rasa sungkan. Tapi penyakit ini telah megubah kami, yang kini tak segan mengucap kata “cinta”, berbagi ciuman dan belaian sayang. Penyakit ini membuatku menemukan Mama, mengalami keluarga, memberi makna baru pada rumah. Perjumpaan dan perpisahan, kegembiraan dan penderitaan, semua adalah anugerah”
“Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali.  Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang”

 

Komentar

Postingan Populer