POLISTAIA

 

Soe Hok-Gie memiliki prinsip; politik adalah barang yang paling kotor. Dengan alasan itulah pria kelahiran Jakarta 17 Desember 1942 tersebut tak mau masuk dunia politik.

Dia, gie punya trisula kemampuan intelektualisme, advokasi dan aksi masa. Pilihan gie berada diluar system politik adalah karena rasa kecewa terhadap situasi politik orde baru saat itu yang diharapkan dapat lebih demokratis malah berubah menjadi otoriter.

Dewasa ini politik menjadi wahana yang penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan, orang-orang yang memiliki kepentingan baik itu kepentingan pribadi atau pun golong mulai mencari cara agar dapat menduduki kursi jabatan.

Satu-dua mulai sayup-sayup terdengar kepalsuan di mana-mana, bahasa kemunafikan bertebaran di satu-dua atau lebih golongan. Tujuannya sama, memangku kursi jabatan. Tak peduli apa yang terjadi antara satu dan lainnya.

“Bagiku sendiri politik adalah barang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah”

Abdurahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pernah mengatakan “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan”. Gus dur memegang teguh prinsip demikian hingga akhir ia lengser dari kursi presiden Republik Indonesia, dengan dalih untuk menjaga kesatuan dan persatuan Nusantara gus dur memilih hengkang dari istana negara.

Nasionalisme gus dur tak dapat dibantah lagi, ia mencintai negeri ini beserta isi nya. Kita butuh politik kemanusiaan, di sana Gus Dur telah menjejakan kaki lebih dahulu. Gus dur menyelami, mengawani bahkan duduk bersama dengan lapisan masyarakat baik itu kelas borjuis atau pun kaum marhaen.

Sikap Gus dur terhadap politik menandakan bahwa politik bukan tujuan melainkan sebuah sarana dalam menegakan nilai-nilai kemanusiaan, bukan malah sebaliknya. Gus dur dicintai oleh segala kalangan masyarakat sebab ia mendahului kepentingan bersama baik itu dari sudut ras, suku maupun agama.

Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian, kata Gus Dur suatu ketika. Karena sejak awal sudah memandang sebuah jabatan sebagai sesuatu yang tidak istimewa, maka Gus dur pun tak lantas melakukan glorifikasi dan mistifikasi atas sebuah jabatan.

 

“Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani dan mengubah pendirian menjadi kebahagiaan. Dimanapun kamu berada, jadilah jiwa di tempat itu”

-Jalaluddin Rumi-

Komentar

Postingan Populer