PULANG

Sayang, pulanglah pada pangkuan peluk — diriku

aku tak ingin kau sendirian disana, sayang aku tak rela kau berdiri menantang di depan istana mewah dengan slogan yang berbunyi demi bangsa dan negara

Sayang, biarkan aku mendukung, mengawani, menyelami, menemani mu disana; disana tempat penuh sesak kata-kata serta teriakan manusia — palsu.

Aku tak-kan membiarkan dirimu dipeluk lembut kapitalisme, akan aku berikan peluk paling hangat di semesta ini — sayang.

Lihat mereka sayang, penuh kata nan sandiwara juga kapalsuan yang mereka gaungkan. Apakah dirimu sekuat Gie yang mati dipelukan sunyi gunung semeru?

Di jalan ini aku akan menjadi jalanmu;

menjadi sepatumu

menjadi kompasmu

menjadi napasmu

Sepenuhnya menjadi — Aku.


— Majalengka —

Komentar

Postingan Populer